Menggali Inspirasi, Menghibur Diri dan Kenyang di Cibinong City Mall



“Rumahmu tuh mananya CCM?” pertanyaan ini seringkali saya terima dengan lapang dada.

“Oh, deket kok, palingan 15 menit naik motor lah, cuman dua kali belok, kanan dan kiri gitu aja,” jawab saya.

Ya, CCM alias Cibinong City Mall memang telah berkembang dari sekedar pusat perbelanjaan. Mall ini sudah menjadi ikon Cibinong, ibu kota Kabupaten Bogor. Bukan cuma belanja, di sinilah orang-orang tua, muda hingga anak-anak bisa berekreasi, menikmati kuliner, menghibur diri, nongkrong dan bermain sepuasnya. Tak hanya tempat untuk membelanjakan uang, tapi sebaliknya tempat ini juga menjadi sumber rejeki. Kata orang pintar, inilah salah satu penggerak ekonomi masyarakat.


Nggak percaya?

Coba lihatlah tiap hari ratusan abang ojol keluar masuk CCM untuk membeli makanan dan minuman yang lagi ngehits di mall ini. Kalau nggak order makanan, mereka juga tiap saat selalu dapat orderan mengantar dan menjemput penumpang di CCM.

“Ramai Mas kalau nunggu penumpang di sini, saya mah daripada ke Jakarta macet mending bolak-balik ke CCM,” inilah kesaksian salah satu driver taksi online yang pernah mengantar saya.

Mau bukti lain?

Walaupun tidak berkaitan erat, tapi ini mall sering banget dijadikan tempat janjian COD-an lho. COD-an masak nggak tahu sih? Katanya netizen?? Itu lho “Cash on Delivery” istilah bayar di tempat dengan janjian ketemuan di suatu tempat. Saya pernah lho sukses jualan laptop bekas yang saya tawarkan online, dan ketemuannya memang paling gampang ya di CCM. Saya juga sering banget mergokin orang-orang yang baru ketemuan, salaman kemudian ngelihat-lihat barang gitu. Gerak-gerik khas COD-an.

Nah, kalau udah deal, keuntungannya bisa deh sekedar buat jajan Chatime. Segeeerr....


Makin hari, CCM memang makin terkenal. Mall ini seolah tidak ada matinya. Saya sendiri selama 4 tahun belakangan memang bersyukur bisa tinggal di rumah yang tak butuh waktu lama untuk mencapai CCM. Selama itu saya sering datang ke CCM, bukan karena saya ketagihan nge-mall, bukan lho ya. Catet, ini murni tentang kebutuhan.  

Hampir semua kebutuhan saya tersedia di CCM, ya termasuk kebutuhan. Iya, kalau butuh sesuatu, baik mendadak maupun barang yang susah didapat, CCM selalu menjadi andalan. Bahkan sebagian besar isi rumah saya tuh belinya di CCM. Dari mulai lemari pakaian, dan isinya juga. Meja makan, meja dapur sampai piring, gelas, sendok, korek kuping, lilin aroma terapi, mug, kipas angin, karpet hingga bor dan obeng, belinya di CCM gaes.


Spot Favorit di Cibinong City Mall

Bicara soal spot favorit di mall ternama ini, saya terus terang bingung milihnya. Lha iya, soalnya toiletnya saja termasuk jadi destinasi favorit. Sudah pasti itu, kalau ke CCM saya pasti mampir ke toiletnya yang sangat jauh lebih kinclong dibanding kamar kos saya dulu (duh, jadi inget masa-masa suram...).

Tapi tenang, sebagai blogger yang baik saya akan membeberkan sejumlah spot di CCM yang menjadi favorit saya.


Pertama tentu saja Toko Buku Gramedia yang terletak di Lantai 1. Sebagai insan yang haus ilmu pengetahuan dan menjunjung tinggi budaya literasi (halah), saya menjadikan Toko Buku Gramedia sebagai tempat favorit yang hampir selalu saya datangi jika mampir ke CCM. Memang nggak melulu beli buku, tapi melihat deretan buku baru di rak, seolah menjadi kebutuhan saya untuk menantang diri sendiri agar bisa mengikuti jejak para penulis hebat itu.

“Ayo dong! Itu Atta Halilintar dan adek-adeknya sudah bikin buku baru, kok kamu masih begini-begini saja?!” inilah kalimat yang sering dilontarkan kata hati saya terhadap saya sendiri.

Toko Gramedia memang jadi inspirasi dan motivasi saya, dan entah kenapa saya betah dengan Gramedia yang di CCM ini. Mungkin karena tempatnya luas, tata letaknya juga pas sehingga tidak sumpek. Karyawan-karyawatinya juga ramah-ramah dan manis-manis dengan seragam hitamnya yang keren.

As you know, Gramedia memang tidak melulu menyediakan buku-buku saja. Saya juga sering menyambangi area perlengkapan outdoor seperti Kalibre untuk melihat-lihat produk terbaru dari mulai tas, ikat pinggang, dompet dan lainnya. Keren-keren gaes, bahkan saya pernah beli ikat pinggang alias sabuk di sini beberapa tahun lalu sampai sekarang masih awet. Saya curiga sabuk ini juga memiliki fitur untuk menahan lingkar perut saya agar ukurannya tetap stabil. Sungguh produk yang berfaedah.


Puas berkeliling, cuci mata dan belanja di Gramedia, biasanya perut jadi lapar. Nah, nggak jauh dari Gramedia, masih di lantai yang sama, tepatnya dekat eskalator depan ACE Hardware ada restoran yang bikin damai keluarga.

Ya, gimana nggak damai tuh, restoran ini sanggup menyatukan perbedaan karena menunya yang bervariatif dan cocok di lidah. Pan & Flip namanya. Ciri khas desain interiornya adalah dekorasi wajan berwarna-warni yang dipajang di dinding. Keren dan kreatif gaes. Mungkin maknanya kurang lebih ragam menu yang warna-warni... cieee...


Eniwei, kenapa dari sekian banyak tempat makan di CCM saya lebih sering milih Pan & Flip? Ya karena menunya memang beragam. Mau ayam ada, masakan lokal Nusantara ada, sea food ada, nasi goreng ada, hingga yang ala Eropa juga ada. Saya paling suka pesan menu i fumi. Itu lho, mie kering yang diguyur kuah, lalu perlahan-lahan jadi lembek dengan cita rasa sea food yang aman dan damai. 

Hmm, uenak asli...

Macaroni Cheese di Pan & Flip juga yummy. Nggak bikin eneg, tidak pula over cooked alias kematengan. Pas pokoknya. Nggak percaya? Silakan pesan sendiri, jangan lupa bayar sendiri ya.
Keluarga saya juga senang banget macaroni cheese ini, bahkan saya pernah membawanya sebagai oleh-oleh sepulang dari Jogja.

Eit, gimana ceritanya dari Jogja malah bawa macaroni cheese?

Jadi gini, karena di area depan CCM, tepatnya di dekat gerbang timur ada shelter bus Damri Bandara Soekarno Hatta, maka jika saya ke Bandara pasti pulang pergi ya harus ke CCM. Waktu itu pulang dari Jogja karena nggak sempat beli oleh-oleh maka saya turun dari Damri langsung masuk ke CCM. Bukan buat ngadem ya, tapi langsung ke Pan & Flip membeli macaroni cheese yang dipanggang dadakan, anget-anget, uhuy...

Sampai di rumah sudah pasti diprotes seisi rumah. Bukannya beli bakpia kek, nasi kucing kek, eh malah bawa macaroni cheese. Tapi herannya setelah itu kok mereka cepet banget melahap oleh-oleh “khas CCM” itu?


Nah, kalau ngomongin pernik unik dan home decor yang bernuansa vintage, di CCM ada toko favorit saya, namanya House of Zakka yang asli keren. Letaknya juga masih di Lantai 1. Jadi meskipun pas nggak niat belanja, saya tetap saja dengan sengaja melewati depan toko ini. Langkah kaki ini sengaja saya setel slow motion dan tatapan mata ke dalam toko. Rasanya mata ini seger lagi, mungkin inilah yang dinamakan cuci mata di mall.

Apalagi kalau masuk. Meski banyak juga dipajang pernik yang khas cewek, tapi di beberapa sudut lainnya terdapat barang-barang vintage yang jarang banget bisa ditemukan di toko-toko lain, termasuk di toko online sekalipun. Sekali lagi, tak sekedar untuk dikagumi dan dibeli, toko seperti ini bisa menginspirasi dan memancing jiwa kreativitas kita (halah.. kita?).


Pengalaman menarik yang pernah saya alami saat datang ke sini adalah tahun lalu ketika masuk toko membawa segepok uang di dompet. Bukan uang saya tentunya, tapi dana sebagai panitia outbond di kantor saya. Intinya saya harus membelanjakan banyak item barang dengan budget tertentu untuk dibelikan sebagai hadiah doorprize acara outbond.

Selain mampir ke Informa, Carefour dan ACE Hardware, saya pun memborong beberapa barang di House of Zakka. Dari mulai beraneka bentuk mug unik, botol minum, jam dinding vintage dan benda-benda keren lainnya. Sampai-sampai mbak pramuniaganya kaget saya dengan santainya membeli banyak barang. Bahkan awalnya saya disapa dengan kalimat “Cari apa Mas?” nah pas bayar dengan belanjaan banyak sapaannya berubah dari “Mas” jadi “Pak”.

“Ada lagi belanjaannya Pak?”

--------

Cibinong City Mall memang lebih dari sekedar tempat belanja, nongkrong, hiburan dan lifestyle. Banyak cerita di sini, banyak pula hal-hal positif yang bisa kita dapat. Yuk kita ketemuan di CCM.

My next schedule adalah nonton Avengers: Endgame di XXI Cibinong City Mall. Ada yang mau ikut?



MRT Jakarta dan Dambaan Integrasi Antar Moda


Kehadiran MRT Jakarta memang menggairahkan. Saat uji coba, rata-rata penumpang antusias mengabadikan momen tersebut. Foto-foto, selfie, ngevlog lalu mengupload ke media sosial adalah bukti bahwa penumpang generasi gadget menyambut baik hadirnya MRT Jakarta.

Secara performa, rangkaian kereta MRT Jakarta cukup memuaskan publik. Baik dari segi kecepatan dan ketepatan waktunya. Kenyamanan di dalam kereta pun boleh dibilang berada di atas level KRL Commuterline maupun bus Transjakarta seri terbaru sekalipun.

Hanya saja sedikit catatan, suara petugas ketika menginformasikan sesuatu melalui pengeras suara di dalam kereta tidak terlalu jelas. Hal ini terbukti ketika MRT melintas di peralihan jalur bawah tanah menuju layang, dari Stasiun Senayan menuju Sisingamangaraja, suara petugas dengan 'halo-halonya' tidaklah cukup jelas terdengar. Berbeda dengan suara rekaman yang selalu menginformasikan setiap kali hendak berhenti di suatu stasiun, kualitas audionya sudah cukup baik.

Secara umum MRT Jakarta memang oke punya. Jakarta patut bangga memilikinya. Namun sebenarnya ada pertanyaan mendasar yang belum terlalu jelas terjawab, yakni bagaimana hadirnya MRT ini diikuti dengan integrasi antar moda transportasi?

MRT Jakarta hadir bukan untuk gaya-gayaan saja, biar dibilang modern. Lebih dari itu, hadirnya MRT Jakarta diharapkan mampu menambah pengguna transportasi umum dari beralihnya pengguna kendaraan pribadi. Jakarta yang selalu macet, diharapkan berkurang macetnya saat MRT datang menjadi andalan transportasi yang nyaman dan cepat.
Setelah sempat mencicipi uji coba, saya pun menjadi sasaran untuk bertanya mengenai MRT. Justru pertanyaan yang paling sering saya terima antara lain:

"Saya mesti naik dari mana?"

"Kalau abis naik KRL mau naik MRT enaknya nyambung di mana ya?"

"Ada nggak ya kendaraan ke Stasiun Lebak Bulus selain nggak pakai ojol?"

Yup, memang, tanpa kemudahan integrasi antar moda, MRT Jakarta tidak akan optimal berkembang. Warga mendamba bisa naik turun dan berganti moda dengan cepat. Namun sayangnya, hingga beberapa hari menuju beroperasi resmi, integrasi antar moda yang melibatkan MRT Jakarta masih belum terlihat ideal.


 Dukuh Atas adalah kawasan yang disebut-sebut menjadi pusat integrasi antar moda transportasi di Jakarta. Stasiun MRT Dukuh Atas memang hanya beberapa langkah dari Stasiun KRL Sudirman dan Stasiun KA Bandara BNI City.

Tapi ketika bicara kondisi saat ini, ketika kaki melangkah keluar dari Stasiun Sudirman di Jalan Blora, maka keriuhan lalu lintas yang didominasi ojek online yang mangkal menunggu penumpang, maupun penumpang yang tengah kebingungan menunggu ojol, akan sedikit mengacaukan definisi "integrasi antar moda".

Satu catatan lagi tentang Dukuh Atas, meskipun memiliki nama yang sama dengan stasiun MRT Dukuh Atas, halte Transjakarta Dukuh Atas 1 maupun Dukuh Atas 2 lokasinya lumayan berjauhan dan membutuhkan waktu tidak sebentar untuk mencapainya.

Saya sendiri pernah menghitung waktu tempuh dari Stasiun Sudirman menuju halte Dukuh Atas 1 dengan berjalan kaki memerlukan waktu paling cepat 10 menit, itupun dengan langkah serba terburu dan mendapat bonus keringat bercucuran meski di pagi hari.

Satu lagi stasiun yang rencananya akan terintegrasi adalah Stasiun ASEAN, yang semula sempat dinamakan Stasiun Sisingamangaraja. Stasiun layang ini bersinggungan dengan halte Transjakarta CSW yang sempat menghebohkan karena letaknya dinilai sangat tinggi dan menyusahkan penumpang.
Meskipun jalur layang Transjakarta untuk rute Koridor 13 Ciledug - Tendean sudah lama beroperasi, tetapi halte CSW sampai sekarang belum difungsikan. Malah karena adanya pembangunan Stasiun MRT ASEAN yang hadir belakangan, halte CSW seolah menunggu adanya integrasi untuk akses penumpang.

Bahkan bulan lalu sempat dibuka sayembara desain prasarana integrasi halte CSW dan Stasiun MRT ASEAN. Mungkin karena saking pusingnya membuat jalan akses ke halte CSW, sehingga pihak Transjakarta sengaja melempar sayembara desain ke publik.

Namun, lebih baik terlambat daripada tidak. Semoga desain integrasi nantinya akan memberikan akses bagi penumpang dari Kebayoran Lama, Ciledug maupun dari arah Jalan Tendean untuk nyambung ke moda MRT.

Integrasi antar moda memang menjadi kunci. Sayangnya mayoritas Stasiun MRT dari Senayan hingga Bundaran HI tidak berdekatan dengan halte Transjakarta, maupun halte bus reguler. Ya maklumlah, kadang jarak 300 meteran saja kita sudah merasa 'mager' alias malas gerak.

Jadi dengan kondisi integrasi yang masih tidak sesuai harapan bagi orang berbudaya 'mager', tentu perlu kerja keras lagi meyakinkan para pengguna kendaraan pribadi untuk beralih ke MRT.

-------------------

Telah diposting via Kompasiana.com

Momen Terbaik 2018: Meresapi Atmosfer Asian Games 2018



Tahun 2018 belum juga kelar, tapi soal best moment di tahun ini sepertinya sudah jelas. Yups, namanya juga best moment, pasti momen tersebut terbaik, menyenangkan, terngiang-ngiang dan tak lekang oleh waktu... (ciee... kerispatih...).

Apalagi kalau momennya berkaitan dengan Asian Games 2018. Ehem, ini mah bukan cuma best moment bagi saya dan keluarga, tapi sebenarnya best moment bagi bangsa Indonesia dan Asia (jeng.. jeng...).

Jadi begini ceritanya. Gara-gara Asian Games kemarin, dua anak saya, Alden (8 tahun) dan Diza (3 tahun), seolah nggak mikirin lagi acara-acara macam Tayo, Tobot, Rainbow Ruby hingga Upin-Ipin. Kalau pas saya pulang ke rumah dan ganti channel tivi ke pertandingan Asian Games, mereka nggak protes dan malah ikut menikmati.

Mereka jadi demam Asian Games, suatu jenis demam yang tidak perlu saya khawatirkan sebagai orang tua. Bahkan kerap kali si sulung minta diajak nonton pertandingan.

“Yah, ayo nonton Asian Games... hari Sabtu besok yah, kan libur...” ujarnya.

“Emm... (mikir sejenak).... ayooo... yo ayo... yo ayoyo yo ayooo...”

“Malah nyanyi...” dan anak-anak pun pada protes.

----

Hampir sebulan Asian Games 2018 berlangsung, saya hanya bisa ngeles kalau ditagih nonton langsung Asian Games 2018. Kebetulan, selalu saja ada acara-acara yang silih berganti tak bisa ditinggalkan macam kerja bakti, acara di sekolah, eyangnya anak-anak datang dan kerja bakti (lagi).

Duh, ayah macam apa saya ini?

Belum tentu ada Asian Games lagi di Indonesia, belum tentu ada acara olah raga heboh macam begini lagi di Indonesia. Saya pun mikir, merenung, mikir lagi, merenung lagi. Setelah itu ngecek tiket online dan kembali lagi menghela nafas panjang...

“Ya ampun, tiket kok mahal begini yak? Yang murah-murah (baca: agak terjangkau) adanya hari kerja... duuh...” saya mulai terjangkit penyakit ngomong sendiri.

“Yah, katanya ada pertandingan bola di Pakansari, aku mau nonton Yah... ayooo...” ini rengekan kesekian kalinya si anak cowok.

“Sebentar ya, Ayah cari tiketnya dulu nih, udah pada habis, cepet banget...” dan saya pun mencoba beralasan.

“Udah sono, Ayah aja sama Alden nonton berdua ke Pakansari,” kali ini istri saya ikut berkomentar.

Stadion Pakansari Cibinong memang lumayan dekat dengan rumah kami. Tinggal kepeleset juga nyampai. Tapi pertimbangan kenapa saya mikir seribu kali untuk nonton di Pakansari adalah selain tiketnya mihil, juga Timnas Indonesia yang main di Bekasi pada babak penyisihan juga sudah keok. Jadi pertandingan semi final hingga final yang digelar di Pakansari dipastikan tidak ada Timnas Indonesia.

“Emm, Bunda, jadi gini, tiketnya kan ada yang 500 ribu nih, pertandingan Korea lawan Jepang di Pakansari, boleh nggak kami nonton?” akhirnya saya pun mencoba mengajukan proposal ke manajer rumah tangga.

“What?! 500 kali dua udah sejuta itu?! Mending buat apa kek yang berfaedah, buat piknik kek sekeluarga, buat Bunda nonton Suju kek... aduuh... lagian nonton di tivi kan lebih jelas?!” kira-kira begitulah tanggapan istri saya.

Ya sudah nak, lupakan Asian Games, yang penting sudah berhasil membeli boneka maskot Atung.

---

Tanggal 2 September 2018 adalah tanggal penutupan Asian Games 2018. Ternyata dua hari sebelumnya istri saya sudah “booking tempat” untuk menonton acara penutupan karena bakal ada Suju dan Ikon, itu lho boy band asal Korea. Istri saya sudah nge-booking sofa untuk nonton di depan tivi.

Akhir pekan pun tiba, Sabtu pagi tanggal 1 September 2018, tiba-tiba saya punya pencerahan. Hmm, kenapa tidak mengajak anak-anak dan istri ke Senayan? Meskipun nggak nonton pertandingan, tapi katanya di area GBK Senayan seru tuh ada Asian Fest.

“Bayar nggak?” tanya istri saya.

“Bayar lah, sepuluh ribu aja...” jawab saya.

“Oh, oke, oke... siangan deh, beres-beres dulu...”

Akhirnya, hampir nggak jadi karena kelewat serius beberes rumah, kami pun berangkat berempat sekitar jam 11. Naik KRL dari Stasiun Bojonggede, jelas ini perjalanan yang amat disukai Alden.
Sampai di Stasiun Sudirman, wajah-wajah kami sudah terlihat kelaparan. Duh, salah pilih waktu nih, kenapa tadi nggak makan dulu di rumah ya?

Akhirnya saya pun nyegat taksi untuk ke Senayan, padahal si Alden maunya naik transjakarta. Yak, menurut dia sambil belajar alat-alat transportasi. Hmm....

“Ayah! Bunda! Lihat! Wow! Gedungnya tinggi-tinggi banget yak?!” seru si Disa sambil nunjuk ke gedung-gedung perkantoran di sepanjang Jalan Sudirman.

Ealah nak, pak sopir taksi jadi melirik ke belakang deh. Kasihan banget sih, tinggal di daerah yang hanya butuh merem sekali di perjalanan dari Jakarta, kok lihat gedung pencakar langit heboh banget ya? Sepertinya saya memang kurang ngajak jalan-jalan nih. Hmm, saya pun tertunduk...

Sampai di lokasi. Wuiihhh... antrenya ya ampuunnn.... puanjang banget. Itu antrean masuk ke arena Asian Fest kalau dalam bahasa jurnalistiknya disebut “mengular”.

“Gimana nih? Nyerah? Pulang aja yuk?” tanya saya ke istri.

“Yaelah, udah sampai sini juga, kapan lagi ada acara begini? Lagian antreannya tertib gini kok, paling juga nggak lama...” jawab istri saya yang juga mantan pacar saya itu.

Pas udah di dalam arena, acaranya ramai banget. Pengunjung benar-benar merasakan atmoster Asian Games 2018.  Ada panggung hiburan, toko merchandise, food truck, spot-spot selfie, hingga stand-stand sponsor.


Tapi ya itu, mau beli apapun antre. Mau beli makan antre. Beli minum antre. Bahkan mau foto-foto juga antre.

“Ayah! Lihat itu Atung... Sama yak kayak boneka di rumah?” seru Disa.

Hari itu, mungkin menjadi hari yang tak terlupakan bagi kami sekeluarga. Tidak ada pertandingan Asian Games yang kami tonton, tapi atmosfer, suasana dan keramaian yang khas membuat kami senang. Bahagia ternyata sederhana, cukup beli tiket 10 ribu rupiah per orang dan kami pun menikmati momen terbaik yang tak terlupakan.

Sesaat saya jadi teringat pernah membaca sebuah artikel tentang seorang atlet yang kini kerap juara. Sewaktu kecil ia pernah dibawa ayahnya datang ke sebuah pembukaan acara olah raga dan sejak itu ia bertekad kelak menjadi juara. Kisah yang menginspirasi tentunya, di tengah keramaian saya pun berandai-andai jika anak-anak saya kelak akan menjadi bagian penting dalam sebuah perhelatan yang membanggakan bangsa.

Bisa jadi, inilah pertama kali anak-anak kami melihat pementasan musik di panggung yang begitu besar dengan sound system yang menggelegar dan berada di suasana festival yang luar biasa. Disa pun sampai terkagum-kagum dengan para penampil di panggung. Sepertinya dalam angannya timbul cita-cita jadi penyanyi seperti halnya yang selama ini dia tunjukkan di rumah. 

Sedangkan kakaknya, entah kenapa serius sekali memperhatikan seorang barista meracik kopi di sebuah kedai kopi yang terletak di antara deretan stand makanan. Ia memperhatikan dari awal hingga akhir hingga kopi sampai ke tangan pembeli, seolah tanpa berkedip.

Hmm, apapun itu, semoga pengalaman ini bisa kalian petik jadi semangat berkarya kalian kelak, nak.


Benar-benar nggak nyesel kami datang ke festival yang keren banget. Sudah tentu pula banyak foto-foto yang diabadikan selama kami berada di Asian Fest.

Meski awalnya malu-malu, anak-anak kemudian antusias banget bisa foto-foto di area yang “Asian Games” banget, misalnya foto di depan gambar maskot.

“Cepetan Yah, hmm... kenapa sih?” inilah sebuah momen saat bersiap ambil foto.

“Bentar ini, sabarr...”

“Duh, makanya ganti henpon baruuu...”


Haha, gara-gara banyak orang ngelihatin, mau ngambil foto anak dan istri kok jadi grogi. Gara-gara grogi, eh istri punya momen untuk manas-manasin saya untuk ganti smartphone. Benar juga sih, smartphone masa kini seharusnya punya desain yang keren sehingga kalau pas foto-foto di tempat umum nggak bikin grogi deh.

---

Nah, sejujurnya saya sudah punya kandidat terbaik untuk smartphone impian di tahun 2018 ini, yaitu Huawei Nova 3i. Kenapa? Yoi, smartphone masa kini apa lagi yang jadi pertimbangan selain kehandalan kameranya.

Huawei Nova 3i memiliki kamera yang diperkuat AI. Lah, AI apaan ya? Itu lho kecerdasan buatan, macam robot cerdas dalam film-film barat. Keren banget pasti karena smartphone ini punya empat kamera AI 24 MP + 2 MP di bagian depan dan 16 MP + 2 MP di belakang. Jadi yang kurang pinter motret bakalan jadi jago karena ditolong sama teknlogi AI. Duh, AI love you deh ah...

Fix, bisa update Instagram tiap hari kalau punya smartphone dengan kamera begini.


Kamera bagus, jatah memory juga harus besar dong. So, jangan khawatir karena Huawei Nova 3i punya storage 128 GB paling besar di kelas smartphone mid-end saat ini. Hmm, ini mah nggak bakalan bikin bete pas foto-foto eh malah low memory. Aduuh... malu dong.

Diperkuat dengan GPU Turbo untuk kemampuan gaming, kalau pas bosan baca-baca berita yang tidak berfaedah tentu lebih enak kalau main mobile game. Nggak bakalan malu lagi main game di kereta atau pas nunggu di stasiun, dilihatin orang juga game kita bakalan lancar jaya. Asyiiikkk...


Nah, itu dia momen terbaikku, so mana nih momen terbaik kamu?

---


Sinergi Keluarga dan Sekolah, Karena Sekolah Bukanlah Penitipan Anak


“Sekolah bukanlah tempat penitipan anak,” kalimat ini ditandaskan oleh kepala sekolah tempat anak saya menimba ilmu.

Maksud dari kalimat tersebut adalah, sekolah mengharapkan kerja sama dan peran orang tua dalam pendidikan, karena pendidikan yang baik bukan semata anak dijejali pelajaran di sekolah dan orang tua hanya menerima hasilnya dari nilai-nilai di buku rapor.

Sejatinya pendidikan dalam keluarga adalah yang utama dan pertama. Hal ini harus benar dipahami sehingga tidak ada anggapan bahwa anak menjadi pintar karena semata sekolahnya bagus. Saya jelas kurang setuju anggapan ini. Bagi saya menjadi pintar adalah penting, tapi harus diimbangi kecerdasan mental dan perilaku yang baik pula. Maka dari itu peran pendidikan dalam keluarga sangatlah penting.

Saya dan istri saya sedari awal mendaftarkan anak ke sekolah dasar ini dengan terlebih dahulu menyepakati hal-hal yang menjadi visi dan misi sekolah. Jika kami sebagai orang tua harus berkomitmen turut serta terlibat dalam pendidikan anak dengan melengkapi segala hal yang diajarkan di sekolah, ya memang itulah tugas orang tua.

Sekolah adalah rumah kedua bagi anak, karena itu harus dipahami bahwa antara rumah kedua dan rumah pertama di mana ia tinggal, sebaiknya memiliki frekuensi yang sama. Artinya dalam memandang satu hal, antara keluarga dan sekolah haruslah sejalan.

Mengerjakan proyek bersama anak
Maka ketika di tiap awal semester guru kelas selalu mengundang orang tua untuk memaparkan rencana pembelajaran, kami pun selalu berusaha datang. Jadi orang tua bisa mengerti dan memahami hal-hal yang akan diberikan oleh guru di kelas.

Tak hanya pemaparan satu arah, pertemuan tersebut juga menjadi ajang diskusi antara orang tua dan guru. Misalnya tentang bagaimana sebaiknya mempersiapkan anak menghadapi event peringatan tujuhbelasan di sekolah. Rangkaian kegiatan seperti pentas seni per kelas, mendekorasi kelas jadi anjungan provinsi, membuat dan menyajikan makanan khas provinsi tersebut serta bagaimana membantu anak belajar tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan provinsi yang menjadi tema kelasnya, adalah hal-hal yang kami diskusikan.

Terkesan repot? Ah tidak juga. Coba kita bayangkan dengan memposisikan diri kita sebagai anak. Alangkah bahagianya tentu sebagai anak jika orang tua kita paham dan nyambung ketika kita antusias menceritakan tentang kegiatan di sekolah.

“Ayah, besok aku mau bikin makanan khas Kalimantan Selatan di sekolah,” inilah celoteh anak saya minggu kemarin.

“Oh ya? Emm, makanan khas Kalimantan Selatan apaan sih?” tanya saya, mencoba ngetes.

“Soto Banjar,” jawabnya.

“Oh, Soto Banjar ya? Bahan-bahannya apa saja, kamu tahu nggak?”

“Emm, apa ya? Bihun, eee cengkeh... lalu eee garam...” ia menjawab sambil mencoba berpikir tentang materi yang diajarkan gurunya di sekolah.

Seperti itulah salah satu cara belajar anak saya, karena belajar tidak harus memelototi buku tebal dan menghafal isinya berulang-ulang. Terkadang percakapan ringan di rumah pun bisa menjadi wahana belajar yang tidak disadari oleh anak.

Belajar sesuai dengan karakter dan kepribadian anak adalah hal yang penting. Tak hanya di rumah, di sekolah pun kita bisa memastikan apakah pihak sekolah, terutama gurunya, mengenal dengan baik karakter anak kita. Inilah pentingnya sebuah komunikasi yang terjalin dengan baik.

Saat ini kita memang berada di era yang disebut “era kekinian”. Dalam memandang pendidikan bagi anak saya, sebagai orang tua saya selalu saja mengingat pengalaman saya saat masih sekolah dan seusia anak saya sekarang. Hal-hal apa saja yang tidak saya sukai saat itu, dan cara belajar bagaimana yang membuat saya seolah-olah “tersiksa” sekali di mata saya saat itu.

Kalau memang tidak menyenangkan, mengapa pula saya terapkan hal yang sama kepada anak saya? Begitulah kira-kira prinsip yang saya pegang.

Saya akui dulu saya pernah nyontek saat tes atau ujian. Saya akui pula saya kerap tidak membuat PR dan memilih menyalin jawaban teman saat pagi hari sebelum pelajaran dimulai. Lalu apakah saya akan menutup mata dan membiarkan anak saya menuju jalan yang sama dengan saya?

Oh tentu tidak dan semoga tidak akan.

Era kekinian seharusnya membuat kita menjadi orang tua yang berpikiran maju pula. Kemudahan teknologi informasi semestinya digunakan ke arah positif termasuk dalam hal ini pendidikan anak.
Teknologi informasi yang menghadirkan dunia digital dalam genggaman kita, adalah salah satu tempat bagi kami untuk mencari rujukan bagaimana pendidikan anak yang ideal. Melalui dunia digital pula kami selaku orang tua bisa mencari informasi tentang sekolah yang menerapkan sistem pendidikan yang sesuai dengan karakter anak kami.

Seiring waktu berjalan, kegiatan sekolah pun dapat dipantau oleh orang tua dari mana pun karena adanya grup percakapan di tiap kelas. Grup yang memang diperuntukkan untuk saling berbagi informasi berkaitan dengan pembelajaran, dan bukan untuk berbagi hal-hal yang tidak berhubungan dan tidak bermanfaat.

Bahkan melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook, sekolah yang kekinian akan memanfaatkannya untuk mempublikasikan segala hal kegiatan yang positif.

“Ayah Bunda, untuk WWP semester ini temanya transportasi, panduan detailnya nanti silakan didownload, paling lambat dikumpulkan akhir bulan ini ya,” inilah salah satu informasi yang dibagikan oleh guru kelas melalui percakapan grup.

Lalu apa itu WWP?

WWP atau Work With Parents adalah  suatu proyek tiap akhir semester yang harus dikerjakan anak dan orang tua di rumah. Kenapa harus dengan orang tua? Ya, karena inilah salah satu bentuk pembelajaran siswa agar bisa bekerja sama dengan oran tuanya. Sebaliknya bagi orang tua akan terlihat komitmen untuk terlibat dalam pendidikan anak yang terhubung dengan sekolah.

Apakah berat?

Hmm, jujur bagi saya justru terasa menyenangkan bisa memiliki waktu khusus membuat proyek dengan anak. Kami pernah membuat replika makanan bento, replika jam dinding hingga miniatur kereta, sesuai tema yang diberikan tiap semester. Semuanya dibuat menggunakan bahan-bahan bekas dan proses pembuatannya didokumentasikan melalui foto-foto yang kemudian diserahkan pula kepada guru kelas. Bangganya lagi, hasil karya tersebut akan dipamerkan dalam event di sekolah yang dihadiri oleh para orang tua dan seluruh siswa.

Hasil karya bersama, sebuah miniatur kereta listrik
Wah, ternyata sudah tua dan punya anak tetap saja dapat tugas dari guru ya? Hehe, itulah mungkin yang dinamakan belajar tak mengenal kata berhenti. Saat anak kita bersekolah, saya meyakini juga bahwa orang tuanya pun sejatinya ikut bersekolah juga.

Apresiasi hasil karya WWP dalam sebuah pameran
Memang, tak semua sekolah memiliki program dan kegiatan yang sama. Kreativitas guru dan sekolah juga memegang peran penting. Namun, baik sekolah negeri maupun swasta di Indonesia, pelibatan keluarga dalam pendidikan sejatinya menjadi semangat yang wajib dimiliki. Hal itupun telah digaris bawahi sebagai salah satu program dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Salah satu kegiatan positif dan kreatif era kekinian, menerbitkan buku!
Keluarga adalah pondasi dan sekolah berpegang kuat pada pondasi tersebut. Pendidikan anak bukan tentang bagaimana sekolah menularkan ilmu, tapi sekali lagi bagaimana keluarga dan sekolah bersinergi membentuk karakter anak sebagai generasi unggul.

“Hore Ayah! Aku sudah selesai, aku berhasil!” begitulah teriakan kegembiraan khas anak saya ketika berhasil menyelesaikan sebuah tugas atau ketika ia sedang belajar sesuatu.

Sebuah ekspresi jujur yang sangat mengharukan, dan ia tentu butuh apresiasi, walau sekedar senyum tulus dan acungan jempol. Nak, kamu memang jempolan.


Sudahlah, Jangan Naik KRL "Commuterline" Lagi

Sudahlah, Jangan Naik KRL "Commuterline" Lagi

Pagi itu tak seperti biasanya, KRL Commuterline jurusan Tanah Abang belum juga terdengar akan segera masuk Stasiun Bojonggede. Sudah 20 menit lebih jarak waktunya dari KRL jurusan  Jakarta Kota yang sudah jalan sebelumnya.
"Lama amat, telat nih," gumam seorang calon penumpang, dia nampak gelisah.
Saya pun gelisah, begitu pula wajah-wajah banyak orang lainnya. Terbayang sudah bakal terlambat datang ke tempat kerjaan. Terbayang pula pendapatan harian yang bakal terpotong.
Peron sempit Stasiun Bojonggede tiba-tiba saja terasa penuh sesak. Wajar, satu kereta terlambat datang berarti ratusan orang terlambat terangkut.
Namun, tak lama kemudian petugas mengumumkan kereta akan segera masuk. Calon penumpang pun merapatkan barisan. Merangsek ke bibir peron, menetapkan strategi supaya bisa masuk lebih dulu.
Begitu kereta datang dan pintu-pintu terbuka, bergegaslah manusia-manusia pengais rejeki itu saling mendesak, berebutan masuk dan mencari posisi strategis. Gara-gara terlambat beberapa menit, kereta sudah terlanjur penuh, maka sisa ruang satu sentimeter pun sangatlah berharga. Jangan harap dapat tempat duduk, karena dapat posisi berdiri dan dua telapak kaki anda bisa menapak lantai kereta pun sudah merupakan nikmat. Karena tidak mustahil satu kaki kita akan menapak di kaki orang lain.
Saat kereta berhenti di Stasiun Citayam dan saat pintu-pintu kembali terbuka, gelombang manusia kembali mendesak dari luar. Mereka pantang menyerah untuk bisa masuk ke dalam. Kami yang di dalam pun berharap tidak ada yang memaksa masuk.
Itulah salah satu "egoisme" penumpang Commuterline. Saat di posisi di luar, kita akan sekuat tenaga memaksa masuk. Sebaliknya, ketika sudah di dalam kita akan berharap tidak ada penumpang baru yang masuk, bahkan memaki dalam hati orang yang memaksa dirinya masuk.
Situasi di Citayam hanya cobaan awal. Ketika tiba di stasiun berikutnya yakni Depok, Depok Baru, Pondok Cina dan seterusnya, situasinya sama. Penumpang di stasiun itu selalu saja memaksa masuk.
"Woi, sudah penuh woi!! Jangan paksa!!" teriakan ini mulai bermunculan.
"Penumpang yang tidak bisa masuk agar tidak memaksakan diri, silakan menunggu kereta selanjutnya," imbauan "template" dari petugas ini sudah pasti tidak akan digubris.
Menunggu kereta berikutnya sampai kapan jika situasinya sama? Bisa-bisa kena semprot bos di kantor gara-gara telatnya parah.
Tiba-tiba tak jauh dari posisi saya berdiri, terdengar suara perempuan, lirih memelas.
"Ada yang mau gantian duduk, saya nggak kuat mau pingsan..."
Bukan hal yang mengherankan. Saya pun merasakan bahwa pagi itu menjadi salah satu pagi penuh "tekanan" selama bertahun-tahun naik Commuterline. Saya hanya bisa pasrah saat dada saya tertekan sangat kuat ke punggung orang lain. Begitu pula saat sikut orang lain mampir ke ulu hati saya.
Saat kereta hendak berhenti atau saat mulai jalan, di dalam kereta seperti snack dalam toples yang dikocok-kocok. Hal ini diperparah dengan posisi besi pegangan yang tidak "terjangkau" oleh rata-rata penumpang di dalam.

Belakangan moda transportasi KRL Commuterline memang menjadi pilihan yang dilirik oleh masyarakat sekitar Jakarta. Mereka yang "tersisih" ke Depok, Bogor, Bekasi hingga Tangerang, memilih Commuterline sebagai andalan transportasi menuju tempat mencari nafkah di Jakarta. Selain lebih murah juga dianggap lebih cepat (dengan syarat tidak ada gangguan keterlambatan).
Semakin sesaknya Commuterline disinyalir akibat makin menjamurnya perumahan baru di daerah pinggiran. Kini, coba saja anda lihat brosur-brosur penawaran perumahan baru, pasti pengembang akan mencantumkan kata-kata promo bahwa lokasi perumahan mereka "hanya beberapa menit saja" menuju ke stasiun KRL.
Makin banyak penduduk, makin banyak pula pengguna Commuterline. Tapi sisi manusiawi di Commuterline menjadi taruhannya. Ketika armada tidak bertambah, ketika jalur tidak bisa pula ditambah, maka ribuan orang tiap harinya akan menerima nasib dijejal-jejal bak "pepes" dalam kotak besi berwujud Commuterline.
Sebagai orang yang sudah lama mengandalkan moda transportasi ini, saya justru mulai berhenti untuk mengajak orang agar naik Commuterline. Dulu ketika melihat kawan atau tetangga terlihat lelah karena tiap hari ke Jakarta naik sepeda motor, saya akan menyarankannya untuk pindah saja naik kereta.
"Enak kok naik kereta, cepat nyampainya, nggak capek di jalan," kata saya, promosi gratis. Tapi itu dulu.
"Wah, enak ya naik motor, bisa mampir-mampir, sekarang mah naik kereta penuh mulu, jangan naik kereta deh..." ini pernyataan saya sekarang.
Memang benar dan masuk akal, ngapain juga naik Commuterline di jaman sekarang. Udah penuh, banyak gangguan, sering telat pula. Lagipula nggak ada gagah-gagahnya naik kereta. Nggak bakal pula terlihat cantik saat naik kereta.
Memangnya anda mau dari rumah sudah dandan rapi, baju diseterika, wangi pula, sepatu sudah disemir mengkilap, eh pas turun kereta tubuh jadi penuh keringat, baju awut-awutan, sepatu pun kusam lagi gara-gara keinjek mulu. Belum lagi pegel-pegelnya, biaya pijat dan berobat lebih mahal daripada ongkos naik keretanya.
Sudahlah kalian jangan naik KRL Commuterline lagi, capek. Bagi yang berencana beli rumah dekat stasiun, lupakan saja, naik kereta itu berat. Biar saya saja, iya biar saya saja yang tetap naik Commuterline, kalian naik yang lain saja. Kalau kalian sudah pindah angkutan, nah kan enak untuk saya, karena kereta tak bakal sepadat biasanya. Iya toh?
------------
Tulisan ini juga diposting di Kompasiana dengan judul yang sama.

Thanos, yang Kamu Lakukan Tuh Jahat! (Resensi Film Avengers: Infinity War)

Thanos, yang Kamu Lakukan Tuh Jahat! (Resensi Film Avengers: Infinity War)

Akhirnya penantian panjang itu tuntas. Thanos benar-benar telah datang di layar lebar dalam Avengers: Infinity War. Lalu apa yang dilakukan Thanos terhadap para jagoan superhero macam Iron Man, Hulk, Captain America, Black Panther, Doctor Strange dan kawan-kawan?
Hmmm, tidak! Sebisa mungkin saya akan menghindari spoiler di sini.
Keluar dari studio bioskop, saya hanya bisa memaki dalam hati. Memaki Marvel Studio yang benar-benar ***)$%**. Mereka telah berhasil melakukan bisnis besar nan brilian dengan menyuguhkan kisah satu demi satu sejak satu dekade lalu. Bahkan sebelum tayang, sudah bisa diyakini film ini bakal memecahkan rekor box office. Yakin deh.
Setidaknya, fans Marvel sudah dibuat penasaran tahun demi tahun, bulan demi bulan, minggu demi minggu untuk menanti bagaimana si Thanos ini bakal beraksi mengumpulkan Infinity Stones yang berujung pada perang hebat dengan para jagoan superhero. Film-film dalam naungan Marvel Cinematic Universe (MCU) mencapai puncaknya dalam Avengers: Infinity War ini.
Eh, puncak? Tunggu dulu... eh... (maaf hampir spoiler...). Puncak dari Hongkong? Coba deh direnungkan lagi, emang ada filmnya Marvel yang selesai dan benar-benar selesai?
..... "krik... krik... krik..." .....
Fans selama ini sudah dibuat menduga-duga jalan cerita Infinity War melalui trailer-trailer yang diluncurkan maupun melalui berita gosip infotainment. Bahkan tiap kali para aktor misal Robert Downey Jr (Tony Stark/Iron Man) , Chris Evans (Steve Rogers aka Captain America), Tom Holland (Peter Parker alias Spiderman culun) muncul di depan media, pancingan-pancingan pertanyaan para reporter selalu saja bertujuan supaya dapat bocoran cerita. Ternyata, ya ternyata... memang begitulah cara jualannya Marvel.
Bahasan paling populer selama ini adalah tentang tebak-tebakan siapakah superhero yang bakalan mati di tangan Thanos? Hmmm, siapa hayo? Yang jelas bukan Gundala, Wiro Sableng atau Ultraman. Anehnya, kok nggak ada yang mikirin kira-kira siapa atau cara seperti apa yang bakal membinasakan Thanos. Coba kalau sebelum masuk bioskop kita sudah merenungkan dengan jernih hal ini, pasti nggak akan pernah ada celotehan asli tapi nyata seperti ini.
"Ah, gelo... nyesel gue nontonnya, kok jagoannya pada.. **** sih?"
Ini semua gara-gara Thanos. Jika sampai jagoan seluruh dunia dan luar bumi bersatu, sesakti apakah dia? Ternyata? Hmmm, nggak sakti-sakti amat kok dia, lha wong nampar Spiderman yang kayak adegan orang nampar nyamuk saja Spidermannya pingsan juga kagak kok... iya nggak pingsan, tapi... ah sudahlah...
Film ini memang sudah jauh hari disebut sebagai film "Thanos", karena saking dominannya doi. Benar saja, Thanos memang berkuasa dan sungguh kuat, tapi sebenarnya kalau ditelaah lagi, ada sisi "manusiawi" dari seorang Thanos. Penjahat super alias super villain Marvel ini terlihat selalu tenang, kalem dan pemikirannya dalam, nggak seperti super villain film sebelah yang terlihat nafsu membabi buta demi satu tujuan: menguasai dunia (halah basi...).
So, melihat Thanos, bisa jadi malah akan membuat "simpati" sebagian penonton. Benci tapi suka. Suka tapi kok... Thanos, apa yang kamu lakukan tuh jahaaat...!
Avengers: Infinity War bisa jadi adalah film yang dibangun begitu sabar karena melibatkan elemen-elemen cerita dan karakter dari berbagai film pendahulunya. Jadi sangat wajar apabila film ini akan membuat penonton pemula kebingungan dan malah melontarkan komentar yang sangat "polos" dan "akwarkrkd".
"Itu tadi Wonder Woman bukan sih?" ini celetukan asli tapi nyata ketika penonton pemula keluar dari studio bioskop.
Banyaknya jagoan yang muncul dalam film ini memang bisa memuaskan penonton. Mereka bersatu melawan Thanos dengan gaya khasnya masing-masing. Dan untuk mengenal gaya khas para karakter itu, sebaiknya (dan seharusnya) para penonton Infinity War memang telah menonton seri Avengers sebelumnya, trilogi Thor, Captain America, Black Panther, Doctor Strange, Guardians of The Galaxy hingga Spiderman: Homecoming.
Duh, berat amat yak?
Oke, nggak perlu semua deh daripada lelah. Minimal sih menurut saya sudah nonton The Avengers, Avengers: Age of Ultron, Captain America: Civil War, Guardians of the Galaxy, Doctor Strange (lho daftarnya kok hampir sama dengan paragraf di atas?).
Tapi justru yang paling penting menurut saya supaya nggak bingung-bingung amat, adalah wajib nonton Thor: Ragnarok (nah ini sih clue, bukan spoiler banget kok...). Film itu menjadi jalan masuk pertama untuk menikmati Infinity War.
Masih nggak sempat nonton itu dan masih pengen nonton Infinity War?
Oke, oke... gini aja deh, pastikan kamu punya teman, pasangan, partner atau apalah itu yang mampu menceriterakan nama-nama karakter superhero di MCU dan sanggup pula menceritakan bagaimana bisa batu-batu akik infinity itu jadi sumber masalah besar yang mengancam alam semesta.
Tapi jangan pula seperti cowok yang tadi nonton di sebelah saya. Sepanjang film ia dengan gaya expert-nya berbisik pada cewek (kemungkinan besar pacarnya) tentang karakter yang muncul dalam film.
"Itu Gamora namanya, anak tirinya Thanos," ucapnya, dan kali ini benar.
"Nah, itu Natasha Wilona alias Black Widow..."
Hmm, Natasha Wilona? Kayak pernah dengar? Gugling dulu ah...
Eniwei, pelajaran terpenting yang saya dapatkan dengan selama ini banyak memelototi trailer Infinty War dan membandingkannya dengan filmnya saat tayang adalah: jangan pernah seratus persen percaya dengan trailer, karena kamu akan mendapati adegan yang tidak sama persis antara trailer dengan film asli saat tayang.
Mau sedikit clue? Mau spoiler? Mau bocoran dikit tentang hal yang "beda" ini? Hmm, silakan pelototi tampilan Hulk alias Bruce Banner.
Dan, puncak dari segala kenikmatan menikmati filmnya Marvel tentu saja post-credit scene yang munculnya di akhir film, setelah deretan tulisan putih di layar hitam yang naik terus tanpa kalian pedulikan untuk membacanya. Secuil adegan itu adalah petunjuk bagaimana kisah ini akan berlanjut.
Dasar Marvel, tentunya adegan post-credit itu juga salah satu cara untuk memancing penonton agar semakin penasaran. Ujung-ujungnya, setelah hiruk pikuk Infinity War, dijamin kita semua akan digiring kembali untuk fokus menanti film MCU yang kemungkinan besar akan berkaitan dengan Thanos Avengers: Infinity War ini.
Selamat menikmati.

Ramadhan di Pulau Lombok, Sebuah Pembuktian Pesona Seribu Masjid

Islamic Center Nusa Tenggara Barat
Melakukan perjalanan jauh saat bulan Ramadhan terkadang menjadi hal dihindari bagi orang yang ingin khusyuk berpuasa. Kecuali untuk perjalanan mudik ke kampung halaman menjelang lebaran, yang tentu disertai dengan semangat yang berlipat ganda.

Saya pun demikian, tetapi ketika disebutkan bahwa saya harus melakukan perjalanan untuk sebuah pekerjaan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, saya merasa tidak berkeberatan dan malah merasa optimis saya bakal tetap bisa berpuasa tanpa terkendala. Tahun lalu saya memang pernah ke Lombok dan kesempatan kali ini, di bulan Ramadhan, adalah kali kedua saya mengunjungi pulau berjuluk “Pulau Seribu Masjid” ini. Nah, jelas sekali saya ingin membuktikan Pesona Seribu Masjid dalam perjalanan kali ini.

Ya, karena julukan itulah saya merasa yakin bakal tetap bisa menjalankan ibadah puasa dengan tenang selama perjalanan singkat di Pulau Lombok. Memang, saya hanya punya kesempatan menginap semalam dan ini karena tugas dari pekerjaan saya yang harus tuntas dalam satu hari.

Hari Rabu tanggal 7 Juni 2017 sore, saya sudah terbang meninggalkan Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Internasional Praya Lombok. Karena selisih waktu satu jam, maka waktu berbuka pun tiba ketika pesawat yang saya tumpangi hampir tiba di Lombok.  Alhamdulillah, segelas teh manis hangat menjadi menu untuk membatalkan puasa. Setelah itu bayangan ayam taliwang dan plecing kangkung seolah menari-nari minta disambangi setelah mendarat.

Beberapa rekan menjemput saya di Bandara Internasional Praya Lombok dan kami pun langsung menuju sebuah rumah makan untuk berbuka puasa. Sepanjang perjalanan dari Bandara ke rumah makan, suasana malam Ramadhan begitu kental terasa. Adzan Isya terdengar saling bersahutan. Orang-orang terlihat berjalan menuju masjid untuk melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Tua, muda, anak-anak, laki-laki maupun perempuan, beriring menuju masjid. Sungguh pemandangan yang menyejukkan.

Akhirnya memang terbukti saat itu juga bahwa julukan “Pulau Seribu Masjid” tidaklah berlebihan. Menurut orang-orang, hampir setiap desa di Pulau Lombok memiliki masjid yang bagus dan hal ini akan membuat pengunjung atau wisatawan beragama Islam mudah menemukan tempat untuk beribadah.

Alhamdulillah sesampainya di rumah makan, menunya memang sudah sesuai bayangan saya. Kata orang, belum sah ke Lombok kalau belum mencicipi kuliner khasnya yakni ayam taliwang dan plecing kangkung. Sungguh buka puasa yang tak terlupakan dan amat berkesan, atau mungkin karena saya terlalu lapar setelah melakukan perjalanan jauh? Saya jadi lupa krupuk kegemaran saya karenanya.

Memang perjalanan kali ini bagi saya bukanlah untuk berwisata, jadi meskipun Lombok amatlah menggoda dengan pesona wisata yang sungguh menarik, tetapi kali ini saya harus terlebih dulu fokus untuk menyelesaikan pekerjaan sesegera mungkin. Ah, tapi berhasil menikmati ayam taliwang dan plecing kangkung seharusnya sudah menjadi kegiatan wisata kuliner bagi saya.

Hari kedua, Kamis 8 Juni 2017, di pagi hari saya sudah dijemput dari hotel untuk menuju tempat yang harus saya kunjungi berkaitan dengan pekerjaan saya. Nah, selama perjalanan dari hotel itulah saya menyempatkan diri bertanya dengan Doni, sopir yang menjemput saya, segala hal tentang Lombok di bulan Ramadhan ini.

“Itu bangunan di depan kita namanya Islamic Center NTB atau Masjid  Hubbul Wathan, megah sekali bangunannya,” ucap Doni menunjuk sebuah bangunan masjid yang sungguh arsitekturnya memang megah dan indah. Sayangnya kami memang tidak akan singgah di tempat tersebut kali ini, saya hanya bisa berharap di lain hari memiliki lebih banyak waktu di Kota Mataram dan Pulau Lombok ini sehingga bisa menyempatkan diri mengunjungi tempat-tempat menarik, termasuk Islamic  Center.

“Kalau tarawih ramai sekali Mas, apalagi sekarang tiap malam imamnya bergantian dari Timur Tengah didatangkan ke sini,” lanjut Doni.

“Dari Timur Tengah?”

“Betul Mas, katanya mereka itu Profesor dari Maroko, Lebanon, Mesir, Yordania gitu lah Mas negara-negara Arab sana, jadi lumayan lah Mas bagi orang-orang sini yang belum pernah ke Arab bisa merasakan suasana bagaimana ikut shalat yang diimami orang asli sana,” ucap Doni.

Islamic Center Nusa Tenggara Barat (foto oleh widikurniawan)
Islamic Center yang terlihat megah, seolah menjadi penegasan status “Pulau Seribu Masjid”. Bangunan tersebut juga menjadi bukti Pesona Seribu Masjid di Pulau Lombok yang tersohor. Saya memang tidak bisa menghitung apakah jumlah masjid di Lombok benar-benar mencapai seribu jumlahnya, tetapi selama perjalanan, sudah banyak bangunan masjid yang kami lewati. Uniknya, rata-rata arsitektur bangunan masjid itu nampak menarik dengan corak warna-warni yang mencolok, termasuk kubahnya.

“Banyak acara di Islamic Center menyambut Ramadhan ini, seharusnya Mas menginap semalam lagi supaya nanti malam kita bisa singgah di sini,” ujar Doni dan saya pun tersenyum mengangguk. Memang jadwal penerbangan pulang saya ke Jakarta telah menanti di sore hari, jadi sungguh menyesal saya kali ini hanya bisa puas memandang kemegahan bangunan Islamic Center saat melewatinya saja.

Sepanjang perjalanan, mata saya juga tidak lepas mengamati bahwa ciri khas masjid memang bertebaran di Kota Mataram dan Pulau Lombok. Bangunan pagar sekolah dan kantor ternyata tak sedikit yang mengusung ornamen bentuk kubah masjid. Demikian pula ketika menjumpai tugu atau gapura yang juga bernafaskan masjid karena memiliki bentuk kubah masjid di atasnya.

Bangunan masjid mudah dijumpai di Pulau Lombok (foto oleh widikurniawan)
“Alhamdulillah, di sini banyak masjid dan orang muslim, tetapi juga berdampingan baik dengan warga yang beragama Hindu, umpama kalau hari raya Nyepi, sama seperti di Bali, warga lainnya juga menghormati bahkan ada pawai ogoh-ogoh yang ramai di sini,” tutur Doni menceritakan keberagaman yang saling menghormati antar umat beragama di Lombok.

Usai menyelesaikan pekerjaan selama kurang lebih 4 jam, saya hanya punya waktu hingga sore hari untuk menuju kembali ke Bandara Praya. Selama perjalanan kali ini, saya hanya sempat singgah satu kali di sebuah masjid yang cukup besar mengarah ke Bandara Praya. Saat itu hampir jam 2 siang dan saya pun melaksanakan shalat jamak Dhuhur dan Ashar karena akan melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta usai menyelesaikan pekerjaan saya. Sungguh, suasana Ramadhan begitu terasa di masjid ini. Nampak beberapa orang tengah mengaji melantunkan ayat-ayat suci Al Quran dengan merdu.

Masjid dengan beragam corak arsitektur yang menarik (foto oleh widikurniawan)
Bisa jadi, perjalanan singkat di Pulau Lombok saat Ramadhan kali ini justru menjadi perjalanan yang sangat mengesankan bagi saya. Semakin tertanam di benak saya kesan bahwa Pulau Lombok  dengan Pesona Seribu Masjid memang ideal menjadi destinasi wisata khususnya bagi kaum muslim. Saya juga akhirnya paham dengan istilah destinasi wisata halal yang belakangan mencuat di media. Ternyata Pulau Lombok memang pantas menyandangnya.

Sampai jumpa kembali Pulau Lombok.

Masjid mudah ditemui di tiap sudut Pulau Lombok (foto oleh widikurniawan)

Salah satu bangunan masjid di Pulau Lombok (foto oleh widikurniawan)

Salah satu bangunan masjid di Pulau Lombok (foto oleh widikurniawan)

Salah satu sudut Kota Mataram dilihat dari ketinggian (foto oleh widikurniawan)