Mau Makan Kok Repot...


Dari sekian banyak penjual makanan, saya paling kagum dengan penjual bubur ayam. Mereka itu rata-rata punya kesabaran tingkat dewa. Selain sabar, daya ingatnya juga luar biasa. Mereka terbiasa menghadapi berbagai jenis pembeli yang setelan mulutnya tidak seragam.

“Bang, jangan pakai micin ya? Kaldunya dikit aja… Eh, sama itu, kedelenya nggak usah deh… Kecapnya jangan banyak-banyak dan yang penting nggak pakai lama…!”

Minggu lalu, saya bahkan melihat sendiri pesanan paling aneh.

“Bang, bubur ayamnya nggak pakai ayam, cukup bubur sama kecap aja”.

Untungnya nih, para tukang bubur tuh emang sabar-sabar. Mungkin mereka semua bercita-cita bisa naik haji kali ya. Terinspirasi sama koleganya Haji Muhidin di sinetron tukaang bubur naik haji.

Ternyata, saya pun punya kawan yang memiliki kebiasaan “main perintah” saat memesan suatu makanan di warung makan. Menu favorit yang paling sering jadi “korbannya” adalah nasi goreng. Dengan gaya meyakinkan tapi cenderung menjengkelkan, ia akan memberikan instruksi khusus pada si penjual sebelum memasak nasi goreng pesanannya.

“Mas, nasi gorengnya nggak pakai kol ya? Jangan pakai saos juga, garamnya jangan banyak-banyak. Bawang gorengnya kasih lebih ya, krupuknya juga… Eh, awas jangan kepedesan lho…!”

Mungkin kalau saya yang jadi tukang nasi goreng saya bakal jawab begini:

“Bisa nggak Mas kalau nggak pakai cerewet juga?!”

Kalau sekedar pesen makanan nggak pakai sambel atau nggak pakai krupuk sih masih bisa diterima akal. Tapi kalau sudah mencampuri urusan bumbu inti seperti garam dan kaldu, sepertinya konsumen model ini sudah melupakan sebuah esensi dari rasa khas yang melekat pada setiap penjual makanan.

Saya pernah pesan nasi goreng yang tidak pakai micin, ternyata oh ternyata, rasanya jadi sangat aneh dan jauh berbeda dengan rasa enak yang menjadi reputasi tukang nasi goreng langganan saya itu. Hmm, ternyata rahasia kelezatan nasi goreng itu terletak pada micinnya. Jadi mau tidak mau ya pembeli harus terima itu. Kesimpulannya kalau tidak mau ya nggak usah beli di situ.

Namanya warung makan pasti punya rahasia resep tersendiri. Mereka punya hak cipta dan proses kreatif yang menjadi jualan andalan. Tugasnya pembeli kan hanya pesan, makan lalu bayar. Kenapa sih harus repot-repot kasih instruksi yang terkadang malah bikin bingung penjualnya?

“Lho Mas, saya kan udah bilang mie-nya jangan terlalu matang dimasak, gimana sih ini?!”

Pernah nggak dengar protes seperti itu? Atau jangan-jangan kamu sendiri suka protes di warung? Sekedar saran nih, kalau memang punya selera khusus soal makanan dan tidak dijumpai di warung atau restoran manapun, lebih baik masak sendiri gih.

“Lha, ane kan nggak bisa masak?! Bisanya main perintah.”

Ya udah deh kalau gitu.
Previous
Next Post »
0 Komentar