Saat Mbak Warteg Diajak Kawin Mas Bule


Jalan Jaksa di bilangan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, terkenal sebagai tempat nginepnya turis-turis asing. Di sepanjang jalan itu memang banyak berdiri hotel dan penginapan kecil dengan tarif yang terbilang terjangkau, pun banyak juga cafe dan bar berdiri untuk mengakomodasi kebutuhan para turis.

Namun, bukan berarti warung makan sekelas warung padang atau warteg tidak ada di Jalan Jaksa. Mungkin karena kebanyakan turis yang datang adalah kaum backpackers yang duitnya cekak, terkadang mereka pun tak segan makan di warteg.

Siang itu saat saya masuk ke sebuah warteg kecil di Jalan Jaksa, seorang bule kurus agak tua dan berewokan sedang lahapnya menikmati makanannya. Meja kecil di warteg itu seolah penuh dengan piring-piring yang jadi tempat lauknya. Sekitar 15 menit berlalu, usai lahap menyantap makanan “ndeso” itu, ia pun berkata pada si mbak penjaga warteg.

“Hi girl, dou you have toilets?” tanyanya.

Di luar dugaan, si mbak itu langsung nyamber ngedumel sendiri.

“Waduh, aku dijak ngomong Enggres, rak mudeng aku yo…” (waduh, aku diajak ngomong Inggris gak ngerti aku ya…) katanya sambil berlalu ke arah dapur.

Bule itu masih berusaha nyerocos minta ke belakang, tapi si mbak warteg hanya cengar-cengir, hingga si mbak malah bertanya ke saya.

“Ngomong opo itu mas?”

“Dia mau pipis, ada toilet nggak?”

“Nggak ono mas,” katanya dengan logat Jawa yang medok.

“There’s no toilets here mister,” kata saya ke bule itu, medok juga, plus kagok, lha wong dari dulu nggak pinter-pinter bahasa Inggris.

“So, where you are if you want to pee..?” (lalu kamu di mana kalau mau pipis?) kata si bule sambil berdiri dan mendemonstrasikan adegan pipis, upss… gila juga nih orang. Untung nggak sampai buka celana juga.

“I’m from Canada, and came here for vacation,” (saya dari Kanada dan datang ke sini untuk liburan), katanya mulai curhat.

“Ooooh…” jawab saya sambil angguk-angguk kepala, kehilangan ide untuk ngomong apa, lupa isi kamus.

“She makes me stomach with her spicy and hot chili… urrgh…” (Dia bikin saya sakit perut dengan sambalnya yang pedas), cerocos si bule lagi sambil nunjuk ke piringnya.

“Oh, but she is very hot, right?” (oh, tapi emang dia itu hot kan?) samber saya sambil ketawa, kali ini semangat kalau bilang cewek hot.

“Yes, she is very hot and beautiful,umm… please tell her, if she wanted to be my wife and come with me to Canada,” ujar si bule.

Eh, gawat juga nih, langsung aja ngajakin anak orang kawin dan mau diboyong ke Kanada.

“Iki lho Mbak, kowe meh dipek bojo gelem ra? Meh dijak neng Kanada..” kata saya ke si mbak warteg menyampaikan pesan si bule yang mau menjadikannya istri. Wah, baru kali ini saya jadi penterjemah dadakan Inggris ke Jowo medok, mimpi apa ya semalam?

“Ra gelem aku Mas, wedi, elek koyo ngono…” (nggak mau aku Mas, takut, jelek kayak gitu..) jawab si Mbak.

“She doesn’t want, mister…”

“Why she doesn’t want to be my wife” si bule nanya alasan, ngeyel juga, dan pastinya saya nggak mungkin bilang karena mukanya jelek. Jauh di bawah standar bule, apalagi dibandingin sama Ben Affleck.

“Because she can not speak English,” jawab saya asal, padahal kan emang iya kalau si mbak nggak bisa ngomong Inggris.

“She can learn, she can go to school later, and I pay all…” (dia bisa belajar, dia bisa sekolah nantinya dan saya yang bayarin). Wuih, dapet beasiswa tapi harus dikawinin dulu. Serius nggak sih bule ini?

“She have a boy friend, mister,” ucap saya ngawur.

“Oke, oke, I know…” katanya setengah ngedumel.

Selanjutnya, orang Kanada itu terlihat siap-siap mau beranjak setelah gagal ngajak kawin pelayan warteg.

“How much I have to pay this?” ia menanyakan harga makanannya.

“Piro mbak? Meh mbayar bulene…” (berapa mbak, bulenya mau bayar), kata saya.

“Kabeh, telung puluh pitu ewu…” (semua tiga puluh tujuh ribu)

“Wuih larang men, termasuk nggonku yo? Ben dibayari pisan?” (wuih, mahal bener, termasuk punya saya ya? biar dibayari dia sekalian?)

“Halah…”

“Thirty seven thousand mister…” kata saya.

Bule itu kemudian mengeluarkan lembaran ratusan ribu, lima puluhan ribu dan banyak receh dari sakunya. Tebal juga isi kantongnya, sayang gak kuat beli dompet…

“Akehe duite rek,” (banyak uangnya) kata si mbak.

“Here you go,” kata si bule sambil mengulurkan uang untuk membayar.

“Lho, kebanyakan ini, ambil lagi nih…” si mbak mengembalikan selembar uang dua ribu rupiah pada bule itu.

“Oh, no no, this is for you… tips for you…”

“Halah, tips kok mung rong ewu…” mbak warteg ngedumel lagi, dikasih lebihan dua ribu perak bilangnya tips, wahaha…

“Next time, in this restaurant, you must provide a knife to cutting meat, like this…” (lain kali, di restoran ini kamu harus sediakan pisau untuk memotong daging, seperti gini…) kata bule itu sambil memeragakan memotong daging dengan pisau di atas piring, oh dia pikir ini restoran steak kali.

“It’s Indonesian style, mister…” cetus saya.

“Yeah I know, but this is tourist area, you must have knife and toilets… “ jawabnya ngeyel. 

Boleh juga sih kritikannya, berhubung warteg itu di kawasan turis, ya mesti menyediakan maunya turis, termasuk pisau untuk makan dan toilet. Harapan yang susah dikabulkan oleh pemilik warteg itu. Lha wong ukuran warung itu cuma sekitar 2,5 kali 6 meter kok.

“Aku yen pipis yo balik neng kos,” (aku kalau pipis ya balik ke kos) ujar si mbak warteg.

“Oke, see you my girl, my beautiful… muahh… thank you…” dan si bule akhirnya pamitan dengan gaya lebay.

“Emangnya di sini jarang ada bule makan mbak? Kok, nggak berani ngomong Inggris?” tanya saya.

“Ya, sering sih Mas, cuma nggak ada yang edan kayak tadi… lihat aja makannya buanyak banget, dua piring nasi plus ayam dua potong, ikan, cumi… nah… cuma krupuk aja dia nggak doyan...”

Itulah sekelumit cerita dari warteg di Jalan Jaksa. Nama jalan di Indonesia yang mungkin paling terkenal hingga seantero dunia. Namun, apakah cerita tentang warung di jalan itu yang tidak punya pisau dan toilet, serta pelayan yang nggak bisa bahasa Inggris juga akan tersebar ke ujung dunia sana? Ah, ini kan gaya Indonesia, toh nggak pakai pisau pun seorang bule bisa makan habis banyak.
Previous
Next Post »
0 Komentar