Senjakala Cabe


Belakangan cabe menjadi komoditas yang benar-benar makin hot. Harganya melambung tinggi seolah nggak mau kalah dengan makin tingginya potongan celana pendek para cabe-cabean.

Selain harga melejit yang bikin ibu-ibu menjerit karena dipaksa irit, keberadaan cabe juga kerap menghilang. Di warung sayur menghilang, di tukang sayur keliling menghilang, sampai-sampai di warung makan dan tukang gorengan juga ikut menghilang. Kayak kamu tuh yang suka mencoba menghilang kalau nggak sengaja ketemu mantan (tsaah...).

Pernah ya, kemarin saya mampir ke warung Empal Gentong Khas Cirebon yang buka di Cibinong, eh sambalnya kagak ada lho. Udah dicari seantero meja juga kagak nongol tuh barang. Eh, tempenya alias tak tahunya, si ibu pemilik warung sudah menyiapkan cabe tabur merk “B*n Cabe” sebagai pengganti sambal. Mantap deh. Jenius.

Lain lagi nih di tukang gorengan langganan saya. Biasanya tuh cabe disediakan secara “all you can eat” bahkan bisa kamu bawa semaumu, tapi belakangan si bapak tukang gorengan hanya menyediakan sejumput cabe buat rame-rame. Parahnya sejak seminggu yang lalu cabenya sudah menjadi mantan alias sudah dianggap tak ada hubungan lagi dengan gorengan yang dijual. Kalau mau cabe ya cari sendiri di pasar.

Fenomena lenyapnya cabe ini kemudian saya renungkan dalam-dalam. Maksudnya dalam hati saja.

Saya malah curiga, ketika cabe susah dijangkau konsumen rumah tangga, di sisi lain cabe makin eksis di ranah produk makanan yang mengandalkan rasa pedas sebagai gacoan. Kalian yang ngaku gaul pasti tahu keberadaan makanan yang pakai level-levelan pedasnya. Dari mulai level 0 yang nggak pedas, level satu yang pedasnya cuma mampir lewat, hingga level 10 yang pedasnya bikin setan minggat.

Dari mulai kripik, krupuk, makaroni, mie instan, mie tidak instan hingga tahu goreng pun kini mulai eksis dengan menjual rasa pedas yang nggak kira-kira. Padahal ya sudah tahu kalau makan kayak gitu pasti mencret, ini mah tetap dibeli dan dicari lalu dimakan atas nama gaya hidup dan seru-seruan.

Belum lagi sambal, sekarang mah banyak produsen sambal botolan sehingga makin mereduksi para pengulek sambal rumahan. Ibaratnya, kalau bisa beli di minimarket ngapain ngulek sendiri? Ah, padahal ngulek itu nikmat lho ya...

Bisnis kuliner yang menjual sensasi rasa pedas jelas membutuhkan cabe beneran bukan cabe-cabean (kalau ini mah kamu yang butuh). Nah, kecurigaan saya sebagai penggemar film bertema konspirasi, mengarah pada keberpihakan para tengkulak cabe yang lebih memilih menjual cabe pada pelaku bisnis kuliner sensasi pedas itu.

Boleh dong curiga dikit. Lama-lama kalau cabe sudah menjadi bahan baku industri, segala macam rasa pedas tidak akan kita dapatkan dari sebiji atau dua biji cabe yang langsung kita gigit bersama gorengan. Inikah senjakala cabe?

Nanam cabe di rumah juga bukan solusi terjitu mengingat sekarang halaman rumah makin sempit saja kayak isi dompet. Coba bayangkan, kalau sekali ngulek sambal butuh satu pohon cabe, jika kamu cuma punya sepuluh pohon cabe di halaman rumah, dalam sepuluh hari sudah habis tuh cabe. Nunggu berbuah lagi jelas makan waktu, di samping makan ati. Belum lagi kalau ada tetangga kamu hobi banget minta cabe. Bayangkan sendiri deh.

#SaveCabe


Previous
Next Post »
0 Komentar