Ramadhan di Pulau Lombok, Sebuah Pembuktian Pesona Seribu Masjid

Islamic Center Nusa Tenggara Barat
Melakukan perjalanan jauh saat bulan Ramadhan terkadang menjadi hal dihindari bagi orang yang ingin khusyuk berpuasa. Kecuali untuk perjalanan mudik ke kampung halaman menjelang lebaran, yang tentu disertai dengan semangat yang berlipat ganda.

Saya pun demikian, tetapi ketika disebutkan bahwa saya harus melakukan perjalanan untuk sebuah pekerjaan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, saya merasa tidak berkeberatan dan malah merasa optimis saya bakal tetap bisa berpuasa tanpa terkendala. Tahun lalu saya memang pernah ke Lombok dan kesempatan kali ini, di bulan Ramadhan, adalah kali kedua saya mengunjungi pulau berjuluk “Pulau Seribu Masjid” ini. Nah, jelas sekali saya ingin membuktikan Pesona Seribu Masjid dalam perjalanan kali ini.

Ya, karena julukan itulah saya merasa yakin bakal tetap bisa menjalankan ibadah puasa dengan tenang selama perjalanan singkat di Pulau Lombok. Memang, saya hanya punya kesempatan menginap semalam dan ini karena tugas dari pekerjaan saya yang harus tuntas dalam satu hari.

Hari Rabu tanggal 7 Juni 2017 sore, saya sudah terbang meninggalkan Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Internasional Praya Lombok. Karena selisih waktu satu jam, maka waktu berbuka pun tiba ketika pesawat yang saya tumpangi hampir tiba di Lombok.  Alhamdulillah, segelas teh manis hangat menjadi menu untuk membatalkan puasa. Setelah itu bayangan ayam taliwang dan plecing kangkung seolah menari-nari minta disambangi setelah mendarat.

Beberapa rekan menjemput saya di Bandara Internasional Praya Lombok dan kami pun langsung menuju sebuah rumah makan untuk berbuka puasa. Sepanjang perjalanan dari Bandara ke rumah makan, suasana malam Ramadhan begitu kental terasa. Adzan Isya terdengar saling bersahutan. Orang-orang terlihat berjalan menuju masjid untuk melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Tua, muda, anak-anak, laki-laki maupun perempuan, beriring menuju masjid. Sungguh pemandangan yang menyejukkan.

Akhirnya memang terbukti saat itu juga bahwa julukan “Pulau Seribu Masjid” tidaklah berlebihan. Menurut orang-orang, hampir setiap desa di Pulau Lombok memiliki masjid yang bagus dan hal ini akan membuat pengunjung atau wisatawan beragama Islam mudah menemukan tempat untuk beribadah.

Alhamdulillah sesampainya di rumah makan, menunya memang sudah sesuai bayangan saya. Kata orang, belum sah ke Lombok kalau belum mencicipi kuliner khasnya yakni ayam taliwang dan plecing kangkung. Sungguh buka puasa yang tak terlupakan dan amat berkesan, atau mungkin karena saya terlalu lapar setelah melakukan perjalanan jauh? Saya jadi lupa krupuk kegemaran saya karenanya.

Memang perjalanan kali ini bagi saya bukanlah untuk berwisata, jadi meskipun Lombok amatlah menggoda dengan pesona wisata yang sungguh menarik, tetapi kali ini saya harus terlebih dulu fokus untuk menyelesaikan pekerjaan sesegera mungkin. Ah, tapi berhasil menikmati ayam taliwang dan plecing kangkung seharusnya sudah menjadi kegiatan wisata kuliner bagi saya.

Hari kedua, Kamis 8 Juni 2017, di pagi hari saya sudah dijemput dari hotel untuk menuju tempat yang harus saya kunjungi berkaitan dengan pekerjaan saya. Nah, selama perjalanan dari hotel itulah saya menyempatkan diri bertanya dengan Doni, sopir yang menjemput saya, segala hal tentang Lombok di bulan Ramadhan ini.

“Itu bangunan di depan kita namanya Islamic Center NTB atau Masjid  Hubbul Wathan, megah sekali bangunannya,” ucap Doni menunjuk sebuah bangunan masjid yang sungguh arsitekturnya memang megah dan indah. Sayangnya kami memang tidak akan singgah di tempat tersebut kali ini, saya hanya bisa berharap di lain hari memiliki lebih banyak waktu di Kota Mataram dan Pulau Lombok ini sehingga bisa menyempatkan diri mengunjungi tempat-tempat menarik, termasuk Islamic  Center.

“Kalau tarawih ramai sekali Mas, apalagi sekarang tiap malam imamnya bergantian dari Timur Tengah didatangkan ke sini,” lanjut Doni.

“Dari Timur Tengah?”

“Betul Mas, katanya mereka itu Profesor dari Maroko, Lebanon, Mesir, Yordania gitu lah Mas negara-negara Arab sana, jadi lumayan lah Mas bagi orang-orang sini yang belum pernah ke Arab bisa merasakan suasana bagaimana ikut shalat yang diimami orang asli sana,” ucap Doni.

Islamic Center Nusa Tenggara Barat (foto oleh widikurniawan)
Islamic Center yang terlihat megah, seolah menjadi penegasan status “Pulau Seribu Masjid”. Bangunan tersebut juga menjadi bukti Pesona Seribu Masjid di Pulau Lombok yang tersohor. Saya memang tidak bisa menghitung apakah jumlah masjid di Lombok benar-benar mencapai seribu jumlahnya, tetapi selama perjalanan, sudah banyak bangunan masjid yang kami lewati. Uniknya, rata-rata arsitektur bangunan masjid itu nampak menarik dengan corak warna-warni yang mencolok, termasuk kubahnya.

“Banyak acara di Islamic Center menyambut Ramadhan ini, seharusnya Mas menginap semalam lagi supaya nanti malam kita bisa singgah di sini,” ujar Doni dan saya pun tersenyum mengangguk. Memang jadwal penerbangan pulang saya ke Jakarta telah menanti di sore hari, jadi sungguh menyesal saya kali ini hanya bisa puas memandang kemegahan bangunan Islamic Center saat melewatinya saja.

Sepanjang perjalanan, mata saya juga tidak lepas mengamati bahwa ciri khas masjid memang bertebaran di Kota Mataram dan Pulau Lombok. Bangunan pagar sekolah dan kantor ternyata tak sedikit yang mengusung ornamen bentuk kubah masjid. Demikian pula ketika menjumpai tugu atau gapura yang juga bernafaskan masjid karena memiliki bentuk kubah masjid di atasnya.

Bangunan masjid mudah dijumpai di Pulau Lombok (foto oleh widikurniawan)
“Alhamdulillah, di sini banyak masjid dan orang muslim, tetapi juga berdampingan baik dengan warga yang beragama Hindu, umpama kalau hari raya Nyepi, sama seperti di Bali, warga lainnya juga menghormati bahkan ada pawai ogoh-ogoh yang ramai di sini,” tutur Doni menceritakan keberagaman yang saling menghormati antar umat beragama di Lombok.

Usai menyelesaikan pekerjaan selama kurang lebih 4 jam, saya hanya punya waktu hingga sore hari untuk menuju kembali ke Bandara Praya. Selama perjalanan kali ini, saya hanya sempat singgah satu kali di sebuah masjid yang cukup besar mengarah ke Bandara Praya. Saat itu hampir jam 2 siang dan saya pun melaksanakan shalat jamak Dhuhur dan Ashar karena akan melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta usai menyelesaikan pekerjaan saya. Sungguh, suasana Ramadhan begitu terasa di masjid ini. Nampak beberapa orang tengah mengaji melantunkan ayat-ayat suci Al Quran dengan merdu.

Masjid dengan beragam corak arsitektur yang menarik (foto oleh widikurniawan)
Bisa jadi, perjalanan singkat di Pulau Lombok saat Ramadhan kali ini justru menjadi perjalanan yang sangat mengesankan bagi saya. Semakin tertanam di benak saya kesan bahwa Pulau Lombok  dengan Pesona Seribu Masjid memang ideal menjadi destinasi wisata khususnya bagi kaum muslim. Saya juga akhirnya paham dengan istilah destinasi wisata halal yang belakangan mencuat di media. Ternyata Pulau Lombok memang pantas menyandangnya.

Sampai jumpa kembali Pulau Lombok.

Masjid mudah ditemui di tiap sudut Pulau Lombok (foto oleh widikurniawan)

Salah satu bangunan masjid di Pulau Lombok (foto oleh widikurniawan)

Salah satu bangunan masjid di Pulau Lombok (foto oleh widikurniawan)

Salah satu sudut Kota Mataram dilihat dari ketinggian (foto oleh widikurniawan)

Previous
Next Post »
4 Komentar
avatar

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1438 H ....

Balas
avatar

Selamat berpuasa juga, salam hormat...

Balas
avatar

Berkunjung bang Widi..

Seru juga ya hunting foto-foto dari berbagai arsitektur masjid di pelosok Lombok.

Balas
avatar

Iya memang seru, kapan2 pengen punya lebih banyak waktu blusukan ke Lombok...

Balas