Sinergi Keluarga dan Sekolah, Karena Sekolah Bukanlah Penitipan Anak


“Sekolah bukanlah tempat penitipan anak,” kalimat ini ditandaskan oleh kepala sekolah tempat anak saya menimba ilmu.

Maksud dari kalimat tersebut adalah, sekolah mengharapkan kerja sama dan peran orang tua dalam pendidikan, karena pendidikan yang baik bukan semata anak dijejali pelajaran di sekolah dan orang tua hanya menerima hasilnya dari nilai-nilai di buku rapor.

Sejatinya pendidikan dalam keluarga adalah yang utama dan pertama. Hal ini harus benar dipahami sehingga tidak ada anggapan bahwa anak menjadi pintar karena semata sekolahnya bagus. Saya jelas kurang setuju anggapan ini. Bagi saya menjadi pintar adalah penting, tapi harus diimbangi kecerdasan mental dan perilaku yang baik pula. Maka dari itu peran pendidikan dalam keluarga sangatlah penting.

Saya dan istri saya sedari awal mendaftarkan anak ke sekolah dasar ini dengan terlebih dahulu menyepakati hal-hal yang menjadi visi dan misi sekolah. Jika kami sebagai orang tua harus berkomitmen turut serta terlibat dalam pendidikan anak dengan melengkapi segala hal yang diajarkan di sekolah, ya memang itulah tugas orang tua.

Sekolah adalah rumah kedua bagi anak, karena itu harus dipahami bahwa antara rumah kedua dan rumah pertama di mana ia tinggal, sebaiknya memiliki frekuensi yang sama. Artinya dalam memandang satu hal, antara keluarga dan sekolah haruslah sejalan.

Mengerjakan proyek bersama anak
Maka ketika di tiap awal semester guru kelas selalu mengundang orang tua untuk memaparkan rencana pembelajaran, kami pun selalu berusaha datang. Jadi orang tua bisa mengerti dan memahami hal-hal yang akan diberikan oleh guru di kelas.

Tak hanya pemaparan satu arah, pertemuan tersebut juga menjadi ajang diskusi antara orang tua dan guru. Misalnya tentang bagaimana sebaiknya mempersiapkan anak menghadapi event peringatan tujuhbelasan di sekolah. Rangkaian kegiatan seperti pentas seni per kelas, mendekorasi kelas jadi anjungan provinsi, membuat dan menyajikan makanan khas provinsi tersebut serta bagaimana membantu anak belajar tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan provinsi yang menjadi tema kelasnya, adalah hal-hal yang kami diskusikan.

Terkesan repot? Ah tidak juga. Coba kita bayangkan dengan memposisikan diri kita sebagai anak. Alangkah bahagianya tentu sebagai anak jika orang tua kita paham dan nyambung ketika kita antusias menceritakan tentang kegiatan di sekolah.

“Ayah, besok aku mau bikin makanan khas Kalimantan Selatan di sekolah,” inilah celoteh anak saya minggu kemarin.

“Oh ya? Emm, makanan khas Kalimantan Selatan apaan sih?” tanya saya, mencoba ngetes.

“Soto Banjar,” jawabnya.

“Oh, Soto Banjar ya? Bahan-bahannya apa saja, kamu tahu nggak?”

“Emm, apa ya? Bihun, eee cengkeh... lalu eee garam...” ia menjawab sambil mencoba berpikir tentang materi yang diajarkan gurunya di sekolah.

Seperti itulah salah satu cara belajar anak saya, karena belajar tidak harus memelototi buku tebal dan menghafal isinya berulang-ulang. Terkadang percakapan ringan di rumah pun bisa menjadi wahana belajar yang tidak disadari oleh anak.

Belajar sesuai dengan karakter dan kepribadian anak adalah hal yang penting. Tak hanya di rumah, di sekolah pun kita bisa memastikan apakah pihak sekolah, terutama gurunya, mengenal dengan baik karakter anak kita. Inilah pentingnya sebuah komunikasi yang terjalin dengan baik.

Saat ini kita memang berada di era yang disebut “era kekinian”. Dalam memandang pendidikan bagi anak saya, sebagai orang tua saya selalu saja mengingat pengalaman saya saat masih sekolah dan seusia anak saya sekarang. Hal-hal apa saja yang tidak saya sukai saat itu, dan cara belajar bagaimana yang membuat saya seolah-olah “tersiksa” sekali di mata saya saat itu.

Kalau memang tidak menyenangkan, mengapa pula saya terapkan hal yang sama kepada anak saya? Begitulah kira-kira prinsip yang saya pegang.

Saya akui dulu saya pernah nyontek saat tes atau ujian. Saya akui pula saya kerap tidak membuat PR dan memilih menyalin jawaban teman saat pagi hari sebelum pelajaran dimulai. Lalu apakah saya akan menutup mata dan membiarkan anak saya menuju jalan yang sama dengan saya?

Oh tentu tidak dan semoga tidak akan.

Era kekinian seharusnya membuat kita menjadi orang tua yang berpikiran maju pula. Kemudahan teknologi informasi semestinya digunakan ke arah positif termasuk dalam hal ini pendidikan anak.
Teknologi informasi yang menghadirkan dunia digital dalam genggaman kita, adalah salah satu tempat bagi kami untuk mencari rujukan bagaimana pendidikan anak yang ideal. Melalui dunia digital pula kami selaku orang tua bisa mencari informasi tentang sekolah yang menerapkan sistem pendidikan yang sesuai dengan karakter anak kami.

Seiring waktu berjalan, kegiatan sekolah pun dapat dipantau oleh orang tua dari mana pun karena adanya grup percakapan di tiap kelas. Grup yang memang diperuntukkan untuk saling berbagi informasi berkaitan dengan pembelajaran, dan bukan untuk berbagi hal-hal yang tidak berhubungan dan tidak bermanfaat.

Bahkan melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook, sekolah yang kekinian akan memanfaatkannya untuk mempublikasikan segala hal kegiatan yang positif.

“Ayah Bunda, untuk WWP semester ini temanya transportasi, panduan detailnya nanti silakan didownload, paling lambat dikumpulkan akhir bulan ini ya,” inilah salah satu informasi yang dibagikan oleh guru kelas melalui percakapan grup.

Lalu apa itu WWP?

WWP atau Work With Parents adalah  suatu proyek tiap akhir semester yang harus dikerjakan anak dan orang tua di rumah. Kenapa harus dengan orang tua? Ya, karena inilah salah satu bentuk pembelajaran siswa agar bisa bekerja sama dengan oran tuanya. Sebaliknya bagi orang tua akan terlihat komitmen untuk terlibat dalam pendidikan anak yang terhubung dengan sekolah.

Apakah berat?

Hmm, jujur bagi saya justru terasa menyenangkan bisa memiliki waktu khusus membuat proyek dengan anak. Kami pernah membuat replika makanan bento, replika jam dinding hingga miniatur kereta, sesuai tema yang diberikan tiap semester. Semuanya dibuat menggunakan bahan-bahan bekas dan proses pembuatannya didokumentasikan melalui foto-foto yang kemudian diserahkan pula kepada guru kelas. Bangganya lagi, hasil karya tersebut akan dipamerkan dalam event di sekolah yang dihadiri oleh para orang tua dan seluruh siswa.

Hasil karya bersama, sebuah miniatur kereta listrik
Wah, ternyata sudah tua dan punya anak tetap saja dapat tugas dari guru ya? Hehe, itulah mungkin yang dinamakan belajar tak mengenal kata berhenti. Saat anak kita bersekolah, saya meyakini juga bahwa orang tuanya pun sejatinya ikut bersekolah juga.

Apresiasi hasil karya WWP dalam sebuah pameran
Memang, tak semua sekolah memiliki program dan kegiatan yang sama. Kreativitas guru dan sekolah juga memegang peran penting. Namun, baik sekolah negeri maupun swasta di Indonesia, pelibatan keluarga dalam pendidikan sejatinya menjadi semangat yang wajib dimiliki. Hal itupun telah digaris bawahi sebagai salah satu program dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Salah satu kegiatan positif dan kreatif era kekinian, menerbitkan buku!
Keluarga adalah pondasi dan sekolah berpegang kuat pada pondasi tersebut. Pendidikan anak bukan tentang bagaimana sekolah menularkan ilmu, tapi sekali lagi bagaimana keluarga dan sekolah bersinergi membentuk karakter anak sebagai generasi unggul.

“Hore Ayah! Aku sudah selesai, aku berhasil!” begitulah teriakan kegembiraan khas anak saya ketika berhasil menyelesaikan sebuah tugas atau ketika ia sedang belajar sesuatu.

Sebuah ekspresi jujur yang sangat mengharukan, dan ia tentu butuh apresiasi, walau sekedar senyum tulus dan acungan jempol. Nak, kamu memang jempolan.


Previous
Next Post »
0 Komentar